Home / Berita / STRATEGI MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA WABAH: DULU, KINI DAN ESOK

STRATEGI MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA WABAH: DULU, KINI DAN ESOK

Unidha-Malang.  “Mungkin strategi adaptasi terhadap bencana wabah COVID-19 hanya satu model, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi wilayah dan karakteristik masyarakat sasaran”, ujar Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si dalam kalimat penutup sesi pemaparan Webinar Strategi Mitigasi dan Adaptasi Bencana Wabah: Dulu, Kini dan Esok. Webinar series 2020 UNIDHA masih melanjutkan rangkaiannya. Kali ini dengan tema webinar Startegi Mitigasi dan Adaptasi Bencana Wabah: Dulu, Kini dan Esok (29/6) menghadirkan empat narasumber ahli dalam bidang mitigasi. Guru besar Geografi Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si ambil bagian sebagai salah satu narasumber dalam webinar ini. Dr. Kurniawan Sigit Wicaksono, S.P., M.Sc- dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawiajaya, dan Heni Masruroh, M.Sc- dosen Fakultas Pertanian UNIDHA menjadi narasumber setelahnya. Peneliti Harian Kompas, Yoesep Budianto, melengkapi empat narasumber webinar yang dinantikan oleh lebih dari seribu peserta.

M.Adri Budi S, M.P, dosen Fakultas Pertanian UNIDHA yang sekaligus moderator sukses mengarahkan jalannya paparan materi hingga diskusi tanya jawab. Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si menjadi pembicara pertama yang membawakan perspektif geografi sebagai “tombak” analisa menentukan strategi mitigasi dan adaptasi atas pandemi yang terjadi saat ini. Guru besar yang sekaligus Wakil Dekan I FIS UM ini menjelaskan berdasarkan pendekatan geografi. Spatial, ecological, dan regional approach menjadi acuan penting dalam menentukan strategi mitigasi dan adaptasi yang berorientasi pada pengurangan resiko bencana dan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Konsep pengurangan resiko bencana bisa dengan memperhatikan 3 faktor, yaitu: pengklasifikasian hazard (bencana), vulberability (kerentanan), dan exposure (eksporsur). Ulasan dari Dr. Kurniawan Sigit Wicaksono, S.P., M.Sc. tersebut melengkapi penjelasan sebelumnya. Tak lupa pada akhir sesi pemaparannya, beliau mengingatkan tentang pentingnya teknologi informasi dalam strategi mitigasi dan adaptasi terhadap bencana COVID-19 saat ini.

Heni Masruroh, M.Sc. membuka paparan materinya dengan mengungkapkan bahwa pandemi saat ini merupakan bencana non-alam (antropogenik). Maka dari itu strategi mitigasi dan adaptasi terhadap bencana wabah saat ini harus mengacu pada karakter bencana antropogenik ini. Beliau menekankan akan pentingnmya dokumen kesiapsiagaan dan dokumen kedaruratan sebagai pedoman terhadap bencana non-alam yang mungkin akan terjadi. Selain itu proses pengintegrasian pendidikan kebencanaan untuk membawangun kesadaran terhadap bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan perlu dilakukan di berbagai sekolah.

Peneliti Harian Kompas, Yoesep Budianto menutup sesi paparan materi dengan mengusung tema materi: Wajah Asli Wabah. Menampilan banyak data mengenai berbagai endemi dan pandemi yang pernah terjadi di dunia beserta upaya penangannya, pemateri terakhir ini cukup banyak mendapat perhatian dari peserta. Tiga kunci penanganan wabah dalam perspektif peneliti ini yaitu: kepemimpinan, kebenaran data, dan komunikasi resiko. Webinar kali ini cukup banyak memberikan masukan kepada peserta bahwa pentingnya strategi mitigasi untuk menekan resiko dari bencana. Melalui pertuakran berbagai persepektif akan didapatkan pemahaman bahwa penangana pandemi tidak bisa hanya melalui protokol kesehatan, namun harus dibangun sinergitas berbagai disiplin keilmuan, salah satunya ilmu lingkungan. (dik-red)

Live youtube bisa dilihat di bawah ini.

Materi dapat di unduh melalui laman ini: http://conference.wisnuwardhana.ac.id/webinar-mitigasi-2020/