Home / KARYA KITA / GURU TAMAN KANAK-KANAK ‘TAK LUPUT’ IPTEK KEKINIAN DALAM PEMBELAJARAN

GURU TAMAN KANAK-KANAK ‘TAK LUPUT’ IPTEK KEKINIAN DALAM PEMBELAJARAN

Oleh: Nurin Fitriana, M.Pd

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pembelajaran mulai digerakkan saat Indonesia memasuki era digital. Hal ini menjadikan konsen kita semua dalam mengembangkan penerapan IPTEK di berbagai hal, tak terlepas bidang Pendidikan. Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu  : Learning to know (belajar untuk menguasai pengetahuan), Learning to do (belajar untuk mengetahui keterampilan), Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan  Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat), untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pembelajaran.

Perkembangan teknologi sudah merambah ke kalangan balita dan anak usia dini, mulai dari permainan anak-anak secara umum hingga game edukatif. Hal ini menjadikan kita sebagai orang tua dan para pendidik harus mulai memanfaatkan perkembangan IPTEK ini secara positif dan lebih bermanfaat bagi anak-anak. Dengan demikian, anak-anak dapat lebih terarah dan merasakan ketertarikan belajar mandiri.

Untuk mendukung program pemerintah dan memfasilitasi keperluan IPTEK dalam pembelajaran anak usia dini, Universitas Wisnuwardhana Malang program pengabdian masyarakat bekerjasama dengan TA Cut Nyak Dien Malang yang berada di Jalan Pamali Timur Perumahan Srikandi Kota Malang menyelenggarakan pelatihan IPTEK dalam pembelajaran bagi Ibu Guru Taman kanak-kanak.

Tujuan dilakukan kegiatan pelatihan ini untuk meningkatkan kemampuan penggunaan Iptek bagi guru untuk kegiatan pembelajaran serta perlu adanya penyediaan media pembelajaran yang menunjang proses belajar, salah satunya yang dapat menggali pemahaman siswa untuk kemampuan berbahasa, membaca dan mengenal gambar. Selain itu dikarenakan minimnya penyediaan alat permainan edukatif di sekolah yang menyenangkan bagi siswa dengan menggunakan basis teknologi. Dengan harapan anak-anak dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan alat pembelajaran tersebut. Sekolah harus dirasakan siswa sebagai tempat yang menarik, menggugah motivasi belajar, menjawab keingintahuan siswa dan menyenangkan.

Diantara banyak tujuan pendidikan dalam PAUD, terdapat aspek kemampuan Bahasa yang wajib dimiliki oleh anak usia dini. Berdasarkan buku pedoman kurikulum 2013 terdapat kompetensi bidang Bahasa yaitu: 1) memahami Bahasa reseptif (menyimak dan membaca); 2) memahami Bahasa ekspresif (mengungkapkan Bahasa secara verbal dan nonverbal); 3) Mengenal keaksaraan awal melalui bermain; 4) mengenal gambar di lingkungan dan makhluk hidup; 5) mampu membaca dengan baik dan benar. Berdasarkan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran yang harus dicapai di bidang Bahasa tersebut maka mitra menyampaikan perlu suatu alat permainan edukatif yang menyenangkan untuk anak-anak belajar.

Oleh karena itu Tim  bersama TA Cut Nyak Dien berdiskusi untuk penggunaan media bantu belajar atau alat permainan edukatif yang menyenangkan sehingga dalam proses pembelajarannya diharapkan dapat meningkatkan proses belajar anak-anak yang lebih menarik. Pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar yang dicapai. Hal ini didukung oleh banyak artikel ilmiah yang membahas tentang penggunaan media dalam pembelajaran, menyebutkan bahwa proses dan hasil belajar pada siswa menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pembelajaran tanpa media dengan pembelajaran menggunakan media. Oleh karena itu penggunaan media pembelajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran.

“Furthermore, games have become a new form of interactive content and game playing provides an interactive, collaborative platform for learning purposes: Digital games that allow collaborative learning producenew ideas as well as exchanging information, simplifying problems, and resolving tasks.”

            Selain dikarenakan minimnya penyediaan alat permainan di sekolah yang menyenangkan bagi siswa dengan menggunakan basis teknologi, Tim merasa perlu diadakan pelatihan bagi guru guna peningkatan kemampuan penggunaan Iptek bagi guru untuk kegiatan pembelajaran serta perlu adanya penyediaan media pembelajaran yang menunjang proses belajar, salah satunya yang dapat menggali pemahaman siswa untuk kemampuan berbahasa, membaca dan mengenal gambar. Siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan alat pembelajaran tersebut.  Hal ini berdasarakan hasil diskusi bersama Ibu Budi Hastinaningsih, S.Pd, beliau mengemukakan bahwa perlu adanya alat pembelajaran edukatif yang dapat mempermudah guru dalam mengajarkan kemampuan ank untuk membaca cepat yang menyenangkan. Selain itu juga adanya pelatihan bagi guru dikarenakan melihat latar belakang pendidikan para guru pendidik di TA Cut Nyak Dien yang kurang memadai.

Alat Peraga Edukatif (APE) dirancang untuk memberikan informasi atau menanamkan sikap tertentu, termasuk memberikan pengalaman belajar baik kognitif, afektif, motorik, bahasa maupun sosial, termasuk didalamnya permainan tradisional maupun modern. Perlu adanya alat pembelajaran edukatif yang dapat mempermudah guru dalam mengajarkan kemampuan ank untuk membaca cepat yang menyenangkan. Selain itu juga adanya pelatihan bagi guru dikarenakan melihat latar belakang pendidikan para guru pendidik di TA Cut Nyak Dien yang kurang memadai pendapat Kepala Sekolah TA Cut Nyak Dien Budi Hastinaningsih, S.Pd

Dengan dasar pengetahuan membuat media pembelajaran diharapkan masing-masing guru nantinya dapat membuat Alat Peraga Edukatif (APE) dirancang untuk memberikan informasi atau menanamkan sikap tertentu, termasuk memberikan pengalaman belajar baik kognitif, afektif, motorik, bahasa maupun sosial, termasuk didalamnya permainan tradisional maupun modern.

Kegiatan ini adalah bentuk kerjasama Universitas Wisnuwardhana Malang Program Pengabdian Masyarakat bersama TA Cut Nyak Dien berdiskusi untuk penggunaan media bantu belajar atau alat permainan edukatif yang menyenangkan sehigga dalam proses pembelajarannya diharapkan dapat meningkatkan proses belajar anak-anak yang lebih menarik. Pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dan para guru TA dapat mengembangkan kegiatan belajar dengan IPTEK yang menunjang pembelajaran.